Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
Memuat berita...
Iklan

Nelayan Protes Tambang Ilegal yang Kembali Beroperasi:Tak Jera Meski Sudah di Razia ada Apa?

MENTOK – Aktivitas penambangan timah secara ilegal menggunakan metode selam kembali merebak di perairan Laut Keranggan, wilayah Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Sekitar 20 unit ponton diduga beroperasi diam-diam pada malam hari, meski sebelumnya para pelaku kerap ditegur, ditertibkan, bahkan diamankan aparat penegak hukum. Kejadian ini tercatat pada Selasa, 16 Juni 2026, dan kembali menimbulkan keresahan mendalam di kalangan nelayan setempat.
 
Menurut keterangan seorang nelayan yang enggan menyebutkan identitasnya demi alasan keamanan, kegiatan tersebut sudah berlangsung selama dua malam berturut-turut dan terlihat sangat terorganisir.
 

“Kami baru saja turun melaut semalam untuk mencari ikan, dan terlihat jelas ada puluhan ponton berjejer bekerja. Kalau dihitung kasar, jumlahnya mencapai sekitar 20 unit, semuanya jenis ponton selam. Sudah dua malam ini mereka berani beroperasi lewat jam malam, seolah tak ada yang mengawasi,” ungkap sumber tersebut.
 
Keberanian para pelaku melanjutkan usaha terlarang ini dinilai semakin menantang kewibawaan hukum. Selama beberapa tahun terakhir, wilayah perairan ini memang kerap menjadi sasaran operasi penertiban. Akan tetapi, pola yang berulang ini menimbulkan pertanyaan besar di mata masyarakat: mengapa setelah ditangkap dan ditindak, mereka bisa segera kembali beraksi?
 
Banyak pihak menilai mustahil aktivitas sebesar ini dapat berjalan terus-menerus hanya dengan tenaga pelaku lapangan semata. Ada dugaan kuat bahwa operasi ini didukung oleh jaringan yang lebih luas, lengkap dengan perlindungan dan koordinasi khusus agar bisa terus berjalan meski diawasi.
 
“Kalau hanya orang biasa, pasti sudah takut dan kapok. Ini berarti ada yang mengatur dan mendukung dari belakang. Tanpa itu, mereka tidak akan berani melanggar hukum berkali-kali seperti ini,” tambah sumber itu.
 
Bagi nelayan, keberadaan tambang selam ilegal ini bukan sekadar masalah pelanggaran hukum, melainkan ancaman langsung terhadap sumber penghidupan mereka. Aktivitas penggalian di dasar laut mengubah struktur ekosistem, membuat air menjadi keruh, serta merusak terumbu karang dan tempat berkembang biak ikan. Akibatnya, hasil tangkapan semakin menurun drastis dan biaya operasional melaut menjadi lebih mahal karena harus mencari lokasi yang jauh.
 
“Kami hanya mengandalkan laut untuk makan dan biaya sekolah anak. Kalau laut terus digali, kapan ikan akan kembali? Kerugian kami setiap hari terasa, tapi sampai kapan harus menunggu kejelasan?” keluhnya.
 
Menyikapi situasi yang semakin memburuk ini, nelayan dan warga sekitar meminta Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung bersama instansi terkait seperti Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, untuk turun tangan secara serius dan tuntas.
 
Mereka menegaskan bahwa penindakan tidak boleh hanya berhenti pada pengamanan alat atau penangkapan awak ponton saja. Pengusutan harus ditelusuri hingga ke akar permasalahan, yaitu menemukan siapa dalang utama, pemodal, serta jaringan yang melindungi kegiatan ilegal tersebut. Diperlukan koordinasi yang lebih padu dan pengawasan yang ketat sepanjang siang dan malam agar perairan Laut Keranggan benar-benar bersih dari aktivitas terlarang ini dan mata pencaharian nelayan dapat terjamin masa depannya.(Mus) 
 
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Iklan